Teori asam dan basa Arrhenius
Teori- Asam adalah zat yang menghasilkan ion hidrogen dalam larutan.
- Basa adalah zat yang menghasilkan ion hidroksida dalam larutan.
Pembatasan teori
Asam hidroklorida (asam klorida) dinetralkan oleh kedua larutan natrium hidroksida dan larutan amonia. Pada kedua kasus tersebut, kamu akan memperoleh larutan tak berwarna yang dapat kamu kristalisasi untuk mendapatkan garam berwarna putih – baik itu natrium klorida maupun amonium klorida.
Keduanya jelas merupakan reaksi yang sangat mirip. Persamaan lengkapnya adalah:
Pada kasus natrium hidroksida, ion hidrogen dari asam bereaksi dengan ion hidroksida dari natrium hidroksida – sejalan dengan teori Arrhenius.
Akan tetapi, pada kasus amonia, tidak muncul ion hidroksida sedikit pun!
anda bisa memahami hal ini dengan mengatakan bahwa amonia bereaksi dengan air yang melarutkan amonia tersebut untuk menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida:
Reaksi ini merupakan reaksi reversibel, dan pada larutan amonia encer yang khas, sekitar 99% sisa amonia ada dalam bentuk molekul amonia. Meskipun demikian, pada reaksi tersebut terdapat ion hidroksida, dan kita dapat menyelipkan ion hidroksida ini ke dalam teori Arrhenius.
Akan tetapi, reaksi yang sama juga terjadi antara gas amonia dan gas hidrogen klorida.
Pada kasus ini, tidak terdapat ion hidrogen atau ion hidroksida dalam larutan – karena bukan merupakan suatu larutan. Teori Arrhenius tidak menghitung reaksi ini sebagai reaksi asam-basa, meskipun pada faktanya reaksi tersebut menghasilkan produk yang sama seperti ketika dua zat tersebut berada dalam larutan.
Menurut teorinya, hidrogen klorida adalah asam karena dapat mengionisasi ketika larut dalam air dan memberikan ion hidrogen (H+) dan klorida (Cl-) seperti yang terlihat di bawah ini.
HCl(g) → H+(aq) + Cl-(aq) Asam Arrhenius mencakup senyawa seperti HCl, HCN dan H2SO4. Arrhenius juga berpendapat bahwa basa adalah senyawa yang mengionisasi dalam air untuk memberikan ion OH-
dan ion positif. NaOH adalah basa menurut Arrhenius karena dapat
memisahkan diri dalam air untuk memberikan ion hidroksida (OH-) dan
natrium (Na+). reaksinya adalah: NaOH(s) → Na+(aq) + OH-(aq) Teori ini menjelaskan kenapa asam memiliki sifat yang serupa. Sifat yang khas dari asam dihasilkan dari keberadaan ion H+. Ini juga menjelaskan kenapa asam menetralkan basa dan sebaliknya. Asam memberikan ion H+, basa memberikan ion OH-, sehingga ion tersebut membentuk air. H+(aq) + OH-(aq) → H2O(l) .
Teori Arrhenius memiliki beberapa
kekurangan. teori inihanya dapat diaplikasikan dalam reaksi yang terjadi
dalam air tidak menjelaskan mengapa beberapa senyawa, yang mengandung
hidrogen dengan bilangan oksidasi +1(seperti HCl) larut dalam air untuk
membentuk larutan asam, sedangkan yang lain seperti CH4 tidak. tidak dapat menjelaskan mengapa senyawa yang tidak memiliki OH, seperti Na2CO3 memiliki karakteristik seperti basa.
Teori asam dan basa Bronsted-Lowry
Teori- Asam adalah donor proton (ion hidrogen).
- Basa adalah akseptor proton (ion hidrogen).
Teori Bronsted-Lowry tidak berlawanan dengan teori Arrhenius – Teori Bronsted-Lowry merupakan perluasan teori Arrhenius.
Ion hidroksida tetap berlaku sebagai basa karena ion hidroksida menerima ion hidrogen dari asam dan membentuk air.
Asam menghasilkan ion hidrogen dalam larutan karena asam bereaksi dengan molekul air melalui pemberian sebuah proton pada molekul air.
Ketika gas hidrogen klorida dilarutkan dalam air untuk menghasilkan asam hidroklorida, molekul hidrogen klorida memberikan sebuah proton (sebuah ion hidrogen) ke molekul air. Ikatan koordinasi (kovalen dativ) terbentuk antara satu pasangan mandiri pada oksigen dan hidrogen dari HCl. Menghasilkan ion hidroksonium, H3O+.
Ketika asam yang terdapat dalam larutan bereaksi dengan basa, yang berfungsi sebagai asam sebenarnya adalah ion hidroksonium. Sebagai contoh, proton ditransferkan dari ion hidroksonium ke ion hidroksida untuk mendapatkan air.
Tampilan elektron terluar, tetapi mengabaikan elektron pada bagian yang lebih dalam:
2. Permasalahan hidrogen klorida / amonia
Hal ini bukanlah suatu masalah yang berlarut-larut dengan menggunakan teori Bronsted-Lowry. Apakah anda sedang membicarakan mengenai reaksi pada keadaan larutan ataupun pada keadaan gas, amonia adalah basa karena amonia menerima sebuah proton (sebuah ion hidrogen). Hidrogen menjadi tertarik ke pasangan mandiri pada nitrogen yang terdapat pada amonia melalui sebuah ikatan koordinasi.
Jika amonia berada dalam larutan, amonia menerima sebuah proton dari ion hidroksonium:
Jika reaksi terjadi pada keadaan gas, amonia menerima sebuah proton secara langsung dari hidrogen klorida:
Cara yang lain, amonia berlaku sebagai basa melalui penerimaan sebuah ion hidrogen dari asam.
3. konjugasi
Ketika hidrogen klorida dilarutkan dalam air, hampir 100% hidrogen klorida bereaksi dengan air menghasilkan ion hidroksonium dan ion klorida. Hidrogen klorida adalah asam kuat, dan kita cenderung menuliskannya dalam reaksi satu arah:
Pada faktanya, reaksi antara HCl dan air adalah reversibel, tetapi hanya sampai pada tingkatan yang sangat kecil. Supaya menjadi bentuk yang lebih umum, asam dituliskan dengan HA, dan reaksi berlangsung reversibel.
Perhatikan reaksi ke arah depan:
- HA adalah asam karena HA mendonasikan sebuah proton (ion hidrogen) ke air.
- Air adalah basa karena air menerima sebuah proton dari HA.
- H3O+ adalah asam karena H3O+ mendonasikan sebuah proton (ion hidrogen) ke ion A-.
- Ion A- adalah basa karena A- menerima sebuah proton dari H3O+.
Anggota pasangan konjugasi berbeda antara satu dengan yang lain melalui kehadiran atau ketidakhadiran ion hidrogen yang dapat ditransferkan.
Jika anda berfikir mengenai HA sebagai asam, maka A- adalah sebagai basa konjugasinya.
Jika anda memperlakukan A- sebagai basa, maka HA adalah sebagai asam konjugasinya.
Air dan ion hidroksonium juga merupakan pasangan konjugasi. Memperlakukan air sebagai basa, ion hidroksonium adalah asam konjugasinya karena ion hidroksonium memiliki kelebihan ion hidrogen yang dapat diberikan lagi.
Memperlakukan ion hidroksonium sebagai asam, maka air adalah sebagai basa konjugasinya. Air dapat menerima kembali ion hidrogen untuk membentuk kembali ion hidroksonium.
Contoh yang kedua mengenai pasangan konjugasi
Berikut ini adalah reaksi antara amonia dan air yang telah kita lihat sebelumnya:
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah forward reaction terlebih dahulu. Amonia adalah basa karena amonia menerima ion hidrogen dari air. Ion amonium adalah asam konjugasinya – ion amonium dapat melepaskan kembali ion hidrogen tersebut untuk membentuk kembali amonia.
Air berlaku sebagai asam, dan basa konjugasinya adalah ion hidroksida. Ion hidroksida dapat menerima ion hidrogen untuk membentuk air kembali.
Perhatikanlah hal ini pada tinjauan yang lain, ion amonium adalah asam, dan amonia adalah basa konjugasinya. Ion hidroksida adalah basa dan air adalah asam konjugasinya.
Zat amfoter
Anda mungkin memperhatikan (atau bahkan mungkin juga tidak memperhatikan!) bahwa salah satu dari dua contoh di atas, air berperilaku sebagai basa, tetapi di lain pihak air berperilaku sebagai asam.
Suatu zat yang dapat berperilaku baik sebagai asam atau sebagai basa digambarkan sebagai amfoter.
Teori asam dan basa Lewis
Teori ini memperluas pemahaman anda mengenai asam dan basa.Teori
- Asam adalah akseptor pasangan elektron.
- Basa adalah donor pasangan elektron.
Hubungan antara teori Lewis dan teori Bronsted-Lowry
Basa LewisHal yang paling mudah untuk melihat hubungan tersebut adalah dengan meninjau dengan tepat mengenai basa Bronsted-Lowry ketika basa Bronsted-Lowry menerima ion hidrogen. Tiga basa Bronsted-Lowry dapat kita lihat pada ion hidroksida, amonia dan air, dan ketianya bersifat khas.
Jadi bagaimana Teori Lewis merupakan suatu tambahan pada konsep basa? Saat ini belum – hal ini akan terlihat ketika kita meninjaunya dalam sudut pandang yang berbeda.
Tetapi bagaimana dengan reaksi yang sama mengenai amonia dan air, sebagai contohnya? Pada teori Lewis, tiap reaksi yang menggunakan amonia dan air menggunakan pasangan elektron mandiri-nya untuk membentuk ikatan koordinasi yang akan terhitung selama keduanya berperilaku sebagai basa.
Berikut ini reaksi yang akan anda temukan pada halaman yang berhubungan dengan ikatan koordinasi. Amonia bereaksi dengan BF3 melalui penggunaan pasangan elektron mandiri yang dimilikinya untuk membentuk ikatan koordinasi dengan orbital kosong pada boron.
Asam Lewis
Asam Lewis adalah akseptor pasangan elektron. Pada contoh sebelumnya, BF3 berperilaku sebagai asam Lewis melalui penerimaan pasangan elektron mandiri milik nitrogen. Pada teori Bronsted-Lowry, BF3 tidak sedikitpun disinggung menganai keasamannya.
Inilah tambahan mengenai istilah asam dari pengertian yang sudah biasa digunakan.
Bagaimana dengan reaksi asam basa yang lebih pasti – seperti, sebagai contoh, reaksi antara amonia dan gas hidrogen klorida?
Pastinya adalah penerimaan pasangan elektron mandiri pada nitrogen. Buku teks sering kali menuliskan hal ini seperti jika amonia mendonasikan pasangan elektron mandiri yang dimilikinya pada ion hidrogen – proton sederhana dengan tidak adanya elektron disekelilingnya.
Ini adalah sesuatu hal yang menyesatkan! anda tidak selalu memperoleh ion hidrogen yang bebas pada sistem kimia. Ion hidogen sangat reaktif dan selalu tertarik pada yang lain. Tidak terdapat ion hidrogen yang tidak bergabung dalam HCl.
Tidak terdapat orbital kosong pada HCl yang dapat menerima pasangan elektron. Mengapa, kemudian, HCl adalah suatu asam Lewis?
Klor lebih elektronegatif dibandingkan dengan hidrogen, dan hal ini berarti bahwa hidrogen klorida akan menjadi molekul polar. Elektron pada ikatan hidrogen-klor akan tertarik ke sisi klor, menghasilkan hidrogen yang bersifat sedikit positif dan klor sedikit negatif.
Pasangan elektron mandiri pada nitrogen yang terdapat pada molekul amonia tertarik ke arah atom hidrogen yang sedikit positif pada HCl. Setelah pasangan elektron mandiri milik nitrogen mendekat pada atom hidrogen, elektron pada ikatan hidrogen-klor tetap akan menolak ke arah klor.
Akhirnya, ikatan koordinasi terbentuk antara nitrogen dan hidrogen, dan klor terputus keluar sebagai ion klorida.
Hal ini sangat baik ditunjukkan dengan notasi "panah melengkung" seperti yang sering digunakan dalam mekanisme reaksi organik.
Teori Asam Basa Lewis
Pada umumnya definisi asam-basa mengikuti apa
yang dinyatakan oleh Arrhenius atau Bronsted-Lowry, tapi dengan adanya struktur
yang diajukan Lewis muncul definisi asam dan basa baru.
Asam Lewis didefinisikan sebagai spesi yang
menerima pasangan elektron.
Basa Lewis didefinisikan sebagai spesi yang
memberikan pasangan elektron.
Sehingga H+ adalah asam Lewis, karena
ia menerima pasangan elektron, sedangkan OH- dan NH3
adalah basa Lewis, karena keduanya adalah penyumbang pasangan elektron. Yang
menarik dalam definisi asam Lewis adalah, terdapat senyawa yang tidak memiliki
hidrogen dapat bertindak sebagai asam. Contoh, molekul BF3. Jika
kita menentukan struktur Lewis dari BF3, tampak B kurang dari oktet
dan dapat menerima pasangan elektron., sehingga dapat bertindak sebagai asam
Lewis Dalam kenyataan molekul yang tidak mencapai oktet sering merupakan asam
Lewis yang kuat karena molekul tersebut dapat mencapai konfigurasi oktet dengan
menerima pasangan elektron tak berikatan. Senyawa yang termasuk dalam perioda
yang lebih bawah dari perioda dua dapat bertindak sebagai asam Lewis sangat
baik, dengan memperbanyak susunan valensi terluar mereka. Akibatnya, SnCl4
bertindak sebagai asam Lewis berdasarkan reaksi berikut:
SnCl4 + 2Cl-(
aq) → SnCl 62-
Atom pusat dikelilingi 12 elektron valensi,
elektronnya menjadi lebih banyak dari 8.
Indikator Asam Basa
Jika kita ingin mengetahui apakah suatu senyawa
bersifat asam, basa atau bahkan tidak keduanya cara yang paling mudah dan murah
adalah dengan kertas lakmus. Apa itu lakmus? Lakmus berasal dari kata litmus
yaitu sejenis tanaman yang dapat menghasilkan warna jika ada asam atau basa.
Lakmus merupakan asam lemah, dan biasa ditulis sebagai Hlit. Ketika dalam air
terbentuk :
HLit →H+(aq) + Lit- (aq)
Ketika berbentuk Hlit, berwarna merah dan ketika
berbentuk ion berwarna biru. Untuk mengetahui bagaimana reaksinya ketika ada
asam atau basa, maka kita gunakan asas Le Chatelier.
Gambar Perubahan warna lakmus oleh basa
Namun kekuatan asam atau basa tidak dapat
ditunjukkan oleh lakmus. Maka digunakan beberapa indikator lain yang memiliki
perubahan warna berbeda jika pH atau kekuatan asamnya berbeda, misalnya methyl
orange (metil jingga) yang akan berwarna kuning jika pH lebih besar dari 4,4
sehingga dapat mendeteksi asam lemah dan asam kuat dan fenolftalein yang
berwarna merah jikaada basa kuat. Trayek pH beberapa indikator diantaranya:
Tabel Perubahan warna dan trayek pH indikator
asam basa
Penggunaan beberapa buah indikator untuk
mengetahui pH satu jenis larutan dinilai kurang efektif, karena banyaknya zat,
memerlukan biaya cukup mahal untuk diidentifikasi keasamannya. Untuk itu
dibuatlah indikator universal, yang secara praktis menunjukkan warna tertentu
untuk nilai pH tertentu. Indikator ini pundapat dibuat dalam bentuk lembaran
kertas yang efisien.
Derajat disosiasi asam basa
Dalam larutan elektrolit kuat, zat-zat elektrolit
terurai seluruhnya menjadi ion-ionnya (ionisasi empurna) dan dalam
larutan elektrolit lemah, zat-zat elektrolit hanya sebagian saja yang terurai
menjadi ion-ionnya (ionisasi sebagian). Sedangkan zat-zat nonelektrolit dalam
larutan tidak terurai menjadi ion-ion.
Berikut ini, beberapa contoh reaksi ionisasi
untuk elektrolit kuat.
HCl + H2O → H3O +(aq)
+ Cl-(aq)
NaOH + H2O → Na+(aq) + OH-
(aq)
Jumlah zat elektrolit yang terionisasi dibandingkan
dengan jumlah zat semula dapat dinyatakan dengan derajat disosiasi (α) dan
ditulis dengan rumus berikut ini.
α = Mol zat terionisasi
Mol zat mula mula
Berdasarkan rumus di atas, maka nilai α
untuk:
1. Elektrolit kuat, α = 1
2. Elektrolit lemah, 0 < α < 1
3. Non-elektrolit, α = 0
Suatu asam atau basa yang merupakan suatu
elektrolit kuat disebut asam atau basa kuat. Dengan demikian jika asam
merupakan elektrolit lemah, maka ia merupakan asam lemah, karena hanya
mengandung sedikit ion H+, demikian juga dengan basa lemah akan
terdapat sedikit ion OH-.
Derajat Keasaman, pH
Kita terkadang menemukan zat yang rasanya sangat
asam dan sedikit asam, atau menemukan zat asam yang kekuatan merusaknya besar
dan ada yang hanya menimbulkan gatal di kulit saja. Berdasarkan kemampuan
ionisasi dan kadar ion H+ larutan asam dan basa terbagi dalam
kelompok asam dan basa kuat, serta , asam dan basa lemah. Kita memerlukan nilai
tertentu untuk mengukur kekuatan asam atau basa tersebut, dan untuk saat ini
kita menggunakan besaran pH, untuk menentukan derajat keasaman suatu larutan.
1. Hubungan Konsentrasi Asam dengan Harga pH
Larutan asam kuat terionisasi sempurna sehingga
harga α -nya = 1.
Untuk menentukan [H+] pada asam,
perhatikan contoh soal berikut ini.
Berapa konsentrasi H+ dalam 500mL
larutan HCl 0,1M?
Jawab:
Reaksi ionisasi: HCl(aq)
→ H+(aq) + Cl-(aq)
[HCl] = 0,1 M
Larutan asam lemah mempunyai daya hantar listrik
yang lemah karena jumlah ion-ionnya relatif sedikit. Reaksi ionisasi asam lemah
merupakan reaksi kesetimbangan. Perhatikan reaksi kesetimbangan asam lemah HA:
HA(aq) → H+(aq) + A–(aq)
Ka = [H+][A-] /
[HA]
Ka adalah konstanta kesetimbangan asam. Karena
[H+] = [A-], maka :
Ka = [H+]2 /
[HA]
[H+] =(Ka[HA] )1/2
= √(Ka[HA])
2. Hubungan Konsentrasi Basa dengan Harga pH
Basa kuat dalam larutannya akan terionisasi
sempurna. Untuk menentukan konsentrasi OH‑ pada basa kuat,
perhatikan contoh soal berikut ini.
Contoh :
Berapa konsentrasi OH- dalam 100mL Ca(OH)2
yang mempunyai konsentrasi 0,2M?
Jawab:
Reaksi:
Ca(OH)2(aq) → Ca2+(aq) + 2OH-(aq)
[OH] = 2 x [ Ca(OH)2] = 2 ( 0,2M
) = 0,4 M
Reaksi ionisasi basa lemah merupakan reaksi
kesetimbangan, maka harga konstanta kesetimbangan basanya (Kb) dapat ditentukan
berdasarkan persamaan reaksi ionisasinya. Basa lemah sukar larut dalam air,
satu-satunya basa lemah yang larut baik dalam air adalah NH4OH (larutan
ammonia). Untuk menentukan konsentrasi OH- sama dengan cara
menentukan H+.
Perhatikan reaksi kesetimbangan berikut.
NH4OH = NH4+ + OH–
Kb = [NH4+ ][OH-
]/ [NH4OH ]
Karena [OH-] » [NH4+],
maka : Kb = [OH- ]2 /[NH4OH ]
NH4OH yang terurai sangat sedikit,
maka:
[NH4OH] sisa » [NH4OH]
mula-mula, Sehingga :
[OH‑] = (Kb . [OH-] )1/2
= √(Kb . [OH-] )
Titrasi Asam Basa
Titrasi adalah teknik laboratorium dimana kita
dapat menentukan konsentrasi suatu zat yang tidak diketahui, dengan pereaksi
lain yang konsentrasinya ditentukan. Pada umumnya masih dilakukan cara titrasi
yang sederhana, dengan menggunakan gelas kimia, dan Biuret.
Jika kita membeli asam cuka di pasar, atau di
toko maka kita tidak pernah menemukan ukuran kandungan asam dalam bentuk
kemolaran seperti yang kita pelajari. Namun dalam botol masih tercantum kadar
cuka berupa persen volume. Untuk itu kita coba mengukur berapa konsentrasi asam
cuka sehingga dapat diketahui kebenaran kandungannya
Contoh :
Untuk mengetahui % asam cuka dilakukan dengan
titrasi 2 mL larutan asam cuka dan memerlukan 35 mL larutan NaOH 0,1M. massa
jenis larutan 950 g/L.
a. Tentukan kemolaran asam cuka!
b. Berapa % kadar asam cuka tersebut?
Jawab:
M asam = ( V basa x M basa ) / V basa = (35
x 0,1) / 2 = 1, 75
b. Dalam 1 liter larutan cuka terdapat 1,75 x 60
gram cuka = 105 gram cuka. Berat 1 liter larutan = 950 gram.
Maka kadar asam cuka = 105 /950 X 100% = 11,05 %
Pada saat titrasi, kita menemukan titik akhir
titrasi. Pada titik akhir titrasi ini jumlah mol ekivalen antara zat yang
dititrasi dan penitrasi sama dan ditunjukkan dengan perubahan warna indikator
asam basa, setelah diketahui volumenya kita dapat melakukan perhitungan.
Saat titrasi, digunakan indikator untuk
mengetahui kapan asam dan basa akan bercampur dengan komposisi yang tepat
seimbang untuk saling menetralkan .Ketika warna indikator berubah, sering
dikatakan sebagai titik akhir titrasi.
Untuk membuat kurva titrasi dapat dilakukan
dengan melakukan titrasi asam basa dari larutan asam dan basa yang memiliki
konsentrasi 1 M, dan dengan volume 25 mL. Satu larutan asam dalam labu
Erlenmeyer dan yang lain dalam buret. Bentuk kurva titrasi yang akan dihasilkan
sangat beragam tergantung kamu campurkan apakah asam kuat dengan basa kuat,
atau asam kuat dengan basa lemah, asam lemah dengan basa kuat atau asam lemah
dan basa lemah.
kurva titrasi asam basa
Hubungan
antara teori Lewis dan teori Bronsted-Lowry
Basa Lewis
Hal yang paling mudah untuk melihat
hubungan tersebut adalah dengan meninjau dengan tepat mengenai basa
Bronsted-Lowry ketika basa Bronsted-Lowry menerima ion hidrogen. Tiga basa
Bronsted-Lowry dapat kita lihat pada ion hidroksida, amonia dan air, dan
ketianya bersifat khas.
Teori Bronsted-Lowry mengatakan
bahwa ketiganya berperilaku sebagai basa karena ketiganya bergabung dengan ion
hidrogen. Alasan ketiganya bergabung dengan ion hidrigen adalah karena
ketiganya memiliki pasangan elektron mandiri – seperti yang dikatakan oleh Teori
Lewis. Keduanya konsisten.
Jadi bagaimana Teori Lewis merupakan
suatu tambahan pada konsep basa? Saat ini belum – hal ini akan terlihat ketika
kita meninjaunya dalam sudut pandang yang berbeda.
Tetapi bagaimana dengan reaksi yang
sama mengenai amonia dan air, sebagai contohnya? Pada teori Lewis, tiap reaksi
yang menggunakan amonia dan air menggunakan pasangan elektron mandiri-nya untuk
membentuk ikatan koordinasi yang akan terhitung selama keduanya berperilaku
sebagai basa.
Berikut ini reaksi yang akan anda
temukan pada halaman yang berhubungan dengan ikatan koordinasi. Amonia bereaksi
dengan BF3 melalui penggunaan pasangan elektron mandiri yang
dimilikinya untuk membentuk ikatan koordinasi dengan orbital kosong pada boron.
Sepanjang menyangkut amonia, amonia
menjadi sama persis seperti ketika amonia bereaksi dengan sebuah ion hidrogen –
amonia menggunakan pasangan elektron mandiri-nya untuk membentuk ikatan
koordinasi. Jika anda memperlakukannya sebagai basa pada suatu kasus, hal ini
akan berlaku juga pada kasus yang lain.
Asam Lewis
Asam Lewis adalah akseptor pasangan
elektron. Pada contoh sebelumnya, BF3 berperilaku sebagai asam Lewis
melalui penerimaan pasangan elektron mandiri milik nitrogen. Pada teori
Bronsted-Lowry, BF3 tidak sedikitpun disinggung menganai
keasamannya.
Inilah tambahan mengenai istilah asam
dari pengertian yang sudah biasa digunakan.
Bagaimana dengan reaksi asam basa
yang lebih pasti – seperti, sebagai contoh, reaksi antara amonia dan gas
hidrogen klorida?
Pastinya adalah penerimaan pasangan
elektron mandiri pada nitrogen. Buku teks sering kali menuliskan hal ini
seperti jika amonia mendonasikan pasangan elektron mandiri yang dimilikinya
pada ion hidrogen – proton sederhana dengan tidak adanya elektron
disekelilingnya.
Ini adalah sesuatu hal yang
menyesatkan! anda tidak selalu memperoleh ion hidrogen yang bebas pada sistem
kimia. Ion hidogen sangat reaktif dan selalu tertarik pada yang lain. Tidak
terdapat ion hidrogen yang tidak bergabung dalam HCl.
Tidak terdapat orbital kosong pada
HCl yang dapat menerima pasangan elektron. Mengapa, kemudian, HCl adalah suatu
asam Lewis?
Klor lebih elektronegatif
dibandingkan dengan hidrogen, dan hal ini berarti bahwa hidrogen klorida akan
menjadi molekul polar. Elektron pada ikatan hidrogen-klor akan tertarik ke sisi
klor, menghasilkan hidrogen yang bersifat sedikit positif dan klor sedikit
negatif.
Pasangan elektron mandiri pada
nitrogen yang terdapat pada molekul amonia tertarik ke arah atom hidrogen yang
sedikit positif pada HCl. Setelah pasangan elektron mandiri milik nitrogen
mendekat pada atom hidrogen, elektron pada ikatan hidrogen-klor tetap akan
menolak ke arah klor.
Akhirnya, ikatan koordinasi
terbentuk antara nitrogen dan hidrogen, dan klor terputus keluar sebagai ion
klorida.
Hal ini sangat baik ditunjukkan
dengan notasi "panah melengkung" seperti yang sering digunakan dalam
mekanisme reaksi organik.
Pertanyaan;
jelaskan mengapa natrium hidroksida, ion hidrogen dari asam bereaksi dengan ion
hidroksida dari natrium hidroksida, sejalan dengan teori Arrhenius.
Akan tetapi, pada kasus amonia, tidak muncul ion hidroksida sedikit pun!jawab;
Karena amonia bereaksi dengan air yang melarutkan amonia tersebut untuk menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida:
Reaksi ini merupakan reaksi reversibel, dan pada larutan amonia encer yang khas, sekitar 99% sisa amonia ada dalam bentuk molekul amonia. Meskipun demikian, pada reaksi tersebut terdapat ion hidroksida, dan kita dapat menyelipkan ion hidroksida ini ke dalam teori Arrhenius.
menurut saya ini dapat dijawab dengan mengatakan bahwa amonia bereaksi dengan air yang melarutkan amonia tersebut untuk menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida
BalasHapusNH3 + H2O → NH4 + H2O
Reaksi ini merupakan reaksi reversibel, dan pada larutan amonia encer yang khas, sekitar 99% sisa amonia ada dalam bentuk molekul amonia. Meskipun demikian, pada reaksi tersebut terdapat ion hidroksida, dan kita dapat menyelipkan ion hidroksida ini ke dalam teori Arrhenius.
Akan tetapi, reaksi yang sama juga terjadi antara gas amonia dan gas
hidrogen klorida.
NH3 + HCl → NH4Cl
jika menurut saya jawabannya,hidrogen klorida adalah asam karena dapat mengionisasi ketika larut dalam air dan memberikan ion hidrogen (H+) dan klorida (Cl-) seperti yang terlihat di bawah ini.
BalasHapusHCl(g) → H+(aq) + Cl-(aq) Asam Arrhenius mencakup senyawa seperti HCl, HCN dan H2SO4. Arrhenius juga berpendapat bahwa basa adalah senyawa yang mengionisasi dalam air untuk memberikan ion OH- dan ion positif. NaOH adalah basa menurut Arrhenius karena dapat memisahkan diri dalam air untuk memberikan ion hidroksida (OH-) dan natrium (Na+). reaksinya adalah: NaOH(s) → Na+(aq) + OH-(aq) Teori ini menjelaskan kenapa asam memiliki sifat yang serupa. Sifat yang khas dari asam dihasilkan dari keberadaan ion H+. Ini juga menjelaskan kenapa asam menetralkan basa dan sebaliknya. Asam memberikan ion H+, basa memberikan ion OH-, sehingga ion tersebut membentuk air. H+(aq) + OH-(aq) → H2O(l) .
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPada kedua kasus tersebut, kamu akan memperoleh larutan tak berwarna yang dapat kamu kristalisasi untuk mendapatkan garam berwarna putih – baik itu natrium klorida maupun amonium klorida.
BalasHapusKeduanya jelas merupakan reaksi yang sangat mirip
sehingga reaksi yang terjadi bersifat reversibel